Jakarta — Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyampaikan sedikitnya 11 tuntutan utama dalam peringatan Hari Buruh Internasional 2026 yang dipusatkan di Monumen Nasional (Monas), Jumat (1/5/2026).
Peringatan May Day tahun ini turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto, setelah sebelumnya pemerintah dan perwakilan serikat pekerja melakukan pertemuan guna memastikan pelaksanaan aksi berlangsung tertib dan kondusif.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menegaskan bahwa May Day bukan sekedar perayaan tahunan, melainkan momentum penting bagi buruh untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
“May Day adalah ruang untuk menyuarakan harapan dan tuntutan pekerja. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum perjuangan,” ujar Said Iqbal dalam keterangannya.
Soroti 11 Isu Strategis
KSPI menyebut terdapat sedikitnya 11 isu strategis yang menjadi fokus perjuangan buruh pada tahun ini, yaitu:
1. Pengesahan regulasi ketenagakerjaan yang lebih berpihak pada pekerja.
2. Penghapusan sistem alih daya (outsourcing) dan penolakan upah murah.
3. Antisipasi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
4. Reformasi perpajakan, termasuk kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) serta penghapusan pajak atas THR, pesangon, dan pensiun.
5. Pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset untuk pemberantasan korupsi.
6. Perlindungan industri dalam negeri, khususnya sektor tekstil dan sumber daya alam.
7. Ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 tentang penghapusan kekerasan di dunia kerja.
8. Penurunan potongan tarif aplikasi ojek daring menjadi 10 persen.
9. Revisi regulasi penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
10. Peningkatan perlindungan pekerja sektor publik, termasuk guru dan tenaga honorer.
11. Pengangkatan tenaga honorer menjadi aparatur sipil negara (ASN) secara bertahap.
Isu ekonomi digital turut menjadi perhatian dalam May Day 2026. KSPI mendorong keterlibatan negara dalam tata kelola platform transportasi daring, termasuk opsi kepemilikan atau pengawasan aplikasi oleh pemerintah.
Menurut KSPI, langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan skema pembagian pendapatan yang lebih adil bagi pengemudi ojek online (ojol), terutama terkait besaran potongan dari perusahaan aplikasi.
Peringatan May Day 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang penyampaian aspirasi, tetapi juga membuka ruang dialog antara pemerintah dan pekerja dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adil dan berkelanjutan.






